belajar membuat website atau toko online sendiri
Cara membuat website dan pemasaran melalui internet bukan hal yang baru bagi banyak orang yang sudah lama berkecimpung di dunia maya, namun bagi mereka yang awam dan belum mengerti tentang masalah ini tentu akan terasa sulit.
Expert menjadi seorang bloging Part 1
Jika ingin pembentukan personal branding, make money blogging, company branding, atau sekedar untuk mendongkrak jumlah traffic blog Anda yang dari dulu begitu-begitu saja, maka inilah dua blog yang harus Anda pantau sekarang juga!.
Expert menjadi seorang bloging Part 2
Setelah dijelaskan ada dua blog pada Part1, untuk kali ini ada dua lagi yang berkualitas dibidang blogging dan SEO.
Ketika Hati sedang Resah, Gunda atau Galau
Dalam kehidupan ini, terkadang seorang hamba didera berbagai derita. Tak jarang hatinya dilanda beragam perasaan yang mengusik hati, menyiksa jiwa dan membuat hidupnya menjadi keruh dan sempit.
Yang Terlupakan oleh Suami
Rumah tangga bahagia merupakan rumah tangga idaman semua pasutri. Bahkan sebelum pasutri mengikrarkan akad ijab-qobul yang kuat saat menikah, mereka telah bercita-cita semoga kelak menjadi pasutri yang hidup penuh keberkahan, atau minimalnya mereka telah berangan-angan kehidupannya kelak akan penuh romantika yang membahagiakan hati,
Senin, 02 Juli 2012
Sebuah Renungan Bagi Kaum Wanita
Sabtu, 30 Juni 2012
Efisiensi Waktu Antara Berkerja dan Tholibul Ilmi
Pada kesempatan ceramah ini, insya Allah kita akan membahas tentang sebuah perkara yang urgen yang banyak menjadi sebuah problem bagi para penuntut ilmu syar’i. Yaitu tentang bagaimana seorang tholibul ‘ilmi mampu mensinkronkan antara tholabul ‘ilmi dengan kesibukan-kesibukan dan aktivitas-aktivitas yang lain seperti bekerja. Pada kesempatan kali ini kami ingin memberikan beberapa trik dan nasehat bagaimana seorang muslim mampu untuk menggabungkan antara mencari ilmu dan kesibukan-kesibukan yang lain.
Nasehat Yang Pertama:
Adanya kesibukan bukan berarti alasan untuk meninggalkan tholabul ‘ilmi.
Betapa banyak seorang yang mereka mencintai tholabul ‘ilmi namun banyak meremehkan tentang perkara tersebut, ketika ia ditanya kenapa ia kurang dalam mencari ilmu, maka ia akan menjawab kepadamu, ‘bagaimana mungkin saya mampu untuk mencari ilmu sementara saya sibuk bekerja’, maka ini tidak diragukan lagi adalah pikiran yang salah, sejatinya kesibukan dengan profesi duniawi bukan berarti ia harus meninggalkan tholabul ‘ilmi. Marilah kita bersama mengambil pelajaran dan tauladan dari para shahabat Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan juga para imam yang mengikuti mereka dengan baik diatas petunjuk. Lihatlah sosok Abu Bakr As-Siddiq radhiyallahu’anhu beliau adalah seorang pedagang yang tersohor dan diwaktu yang sama beliau adalah orang yang paling dekat dengan Nabi shallallahu’alaihi wasallam, barang perniagaan yang ia miliki tidaklah melalaikannya dari agamanya. Demikian juga sosok Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu beliau adalah pedagang yang kaya raya, demikian juga Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu, dan juga sederetan para shahabat yang lain. Engkau akan dapati pada diri shahabat bahwa mereka memiliki trik dan metode yang jitu dalam mensinkronkan antara mencari ilmu dan menjalankan profesi duniawinya. Ambil contoh disini adalah apa yang dituturkan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu, “Dahulu aku dan tetanggaku dari Anshar, kami saling bergantian dalam menghadiri majelis Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, adakalanya satu hari dia yang turun kemudian satu hari berikutnya aku yang turun, apabila aku yang turun maka sekembalinya aku dari majelis tersebut aku menceritakan kepada tetanggaku tentang wahyu yang turun atau hal yang lainnya pada hari tersebut, apabila yang turun tetanggaku maka ia pun melakukan seperti apa yang aku lakuakan. Maksudnya disini, Umar selama satu hari disibukkan dengan berdagang dan pekerjaan duniawi kemudian tetangganya pada hari tersebut turun untuk menghadiri majelis ilmu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, kemudian pada hari berikutnya giliran Umarlah yang mencari ilmu sedangkan tetangganya orang Anshar dia berdagang dan melakukan pekerjaan duniawinya.
Selasa, 29 Mei 2012
Hukum Makan dengan Tangan Kiri
Beberapa kesempatan yang lalu, kami sempat membahas di antara adab makan. Tema yang telah diangkat adalah adab membaca “bismillah” sebelum makan. Saat ini kami akan membahas adab makan yang lain yaitu adab makan dengan tangan kanan.
Dalam hadits yang muttafaqun ‘alaih,
يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
“Wahai anak, sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah yang ada di hadapanmu." (HR. Bukhari no. 5376, Bab Membaca Basmalah ketika Makan dan Makan dengan Tangan Kanan; Muslim no. 2022, Bab Adab Makan-Minum dan Hukumnya)
Dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah riwayat,
« إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ ».
"Jika seseorang di antara kalian makan, maka hendaknya dia makan dengan tangan kanannya. Jika minum maka hendaknya juga minum dengan tangan kanannya, karena setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya pula." (HR. Muslim no. 2020, Bab Adab Makan-Minum dan Hukumnya)
Dalam kitab yang sama disebutkan riwayat lainnya,
Penerimaan siswa/siswi baru tahun ajaran 2012-2013 SMP Ulun Nuha Medan
![]() |
| Klik Untuk Memperbesar Gambar |
![]() |
| Klik Untuk Memperbesar Gambar |
Kamis, 24 Mei 2012
Obat Ketika Merindukan Si Dia
Kerinduan kepada kekasih, seringkali membekaskan duka. Karena sudah tahu bahwa pacaran bukanlah jalan yang halal untuk ditempuh, maka nikahlah satu-satunya yang jadi pilihan. Padahal si pria belum mampu memberi nafkah lahir. Wanita pun masih muda dan dituntut oleh orang tua untuk menyelesaikan sekolah atau meraih gelar. Akhirnya, karena tidak kesampaian untuk nikah, maka pacaran terselubung sebagai jalan keluar karena tidak kuat menahan rasa rindu pada si dia. Lewat chatting, inbox FB atau sms jadi jalur alternatif.
Inilah yang dialami pemuda masa kini. Mungkin juga dialami para aktivis dakwah. Agar dikira tidak melalui pacaran, maka sms dan chatting yang jadi pilihan. Seharusnya rasa rindu ini bisa dipendam dengan melakukan beberapa kiat yang akan kami utarakan[1]. Semoga Allah senantiasa memberi taufik.
Terapi dari Rasa Rindu dengan Segera Nikah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah[2], maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.”[3]















