Sabtu, 21 Juli 2012

Kebahagiaan Para Penghafal Al-Qur’an (2): Rumah Tangga Penghafal Al-Qur’an (2)


Lanjutan dari Para Penghafal Al-Qur'an (1)
…masih tentang kebahagiaan para penghafal Al-Qur’an, berikut ini penggalan kisah kehidupan rumah tangga bahagia para penghafal Al-Qur’an.. Istrinya penghafal Al-Qur’an, Suaminya penghafal Al-Qur’an, seluruh anak anaknya penghafal Al-Qur’an, adakah yang lebih berbahagia dari mereka didunia ini? Gak pada pengen po?
Kisah Pertama: Nashihat nashihat Suamiku Telah Mendorongku Untuk Menghafal AlQur’an            
Seringkali pasangan yang baik menjadi faktor terpenting bagi kesuksesan dalam membangun sebuah keluarga muslim, menjaganya dari berbagai bahaya dan keburukan zaman. ‘Ubair adalah seorang istri yang banyak memiliki permasalahan dan perselisihan dengan para tetangganya.
Acapkali rumahnya dipenuhi dengan berbagai problematika akibat teman temannya yang membuat gosip dan mengadu domba yang membentuk karakter dirinya. Suaminya telah memperingatkan akan bahaya teman temannya tersebut namun ia tidak mengindahkannya.

Sang suami tak putus asa atau hilang harapan. Ia senantiasa memberikan nashihat dan bimbingannya. Suatu hari sang istri mendapati suaminya tengah membaca AlQuran dengan suara yang merdu dan mendengarkan beberapa hadits lewat siaran radio. Sang istri lalu merasakan perubahan aneh dalam hidupnya. Saat itu juga ia langsung berwudhu dan berdiri untuk melaksanakan shalat. Setelah selesai shalat ia mulai menangis seolah olah ia tengah mencuci dosa dosanya. Sang suami mendekat dan menyodorkan mushaf kepadanya. Ia mulai membacanya dan ia merasakan kelapangan, ketenangan dan kenyamanan. Ia menekuni hafalan AlQuran di sebuah sekolah tahfidz. Ia meninggalkan teman temannya yang suka menggosip dan adu domba hingga akhirnya ia menjadi salah satu siswi istimewa disana.
Kisah Kedua: Seluruh Anggota Keluarga hafal AlQur’an
Di Riyadh ada sebuah keluarga yang memiliki 10 orang anak yang kesemuanya mampu menghafal AlQuran secara sempurna. Mereka menyisihkan kebanyakan waktu mereka  untuk membaca, murojaah dan tafsir AlQur’an. Dialah Ummu bakr yang hidup di lingkungan ilmu nan subur. Ayahnya seorang penuntut ilmu dan senantiasa berupaya mendidik anak anaknya dengan baik. Ditempat tinggalnya ada sebuah adat bahwa wanita tidak diperkenankan menikah sebelum menghafal AlQur’an. Maka ia mampu menghafal AlQuran ketika berusia 13 tahun.
“Ayahku berkomitmen untuk tidak menikahkan kami kecuali dengan orang yang baik agama dan akhlaqnya. Ia lebih mendahulukan yang telah hafal AlQuran dari yang lain. Oleh karenanya ia menikahkanku dengan seorang pemuda shalih yang juga seorang haafidz berusia 19 tahun yang mencintai AlQur’an dan sangat perhatian untuk mengulang ulangnya. Sekiranya ada orang yang bertanya kepadanya tentang satu ayat dalam AlQur’an, di surat mana tempatnya, nomor ayat keberapa dan ttempatnya dalam AlQur’an tentu ia akan menjawabnya dengan sangat cepat.
Keluargaku terdiri dari 13 orang. 10 dari mereka termasuk aku dan suamiku telah hafal AlQur’an secara sempurna. Adapun si kecil sedang menjalani proses penyelesaian hafalannya. Lingkungan kami yang baik  memudahkan proses menghafal melalui suami dan kesungguhan orang tuaku dimana keduanya sangat antusias untuk mengajarkan AlQur’an kepada anak anak sejak dini hingga salah seorang dari mereka tidak akan didaftarkan ke sebuah sekolah formal sebelum menghafal beberapa juz AlQur’an.
Semestinya semua keluarga bisa saling bahu membahu diantara mereka dan ada beberapa hal lain yang mesti diperhatikan baik baik yaitu:
1. Teladan yang baik dari kedua orang tua
2. Harus ditanamkan kecintaan terhadap AlQur’an, pengagungan serta penjelasan akan pentingnya AlQur’an
3. Menjauhkan segala yang melalaikan sekaligus yang diharamkan dari kehidupan dan lingkungan anak dari AlQur’an
4. Memotivasi mereka, sabar menghadapi mereka termasuk sabar terhadap kemalasannya yang terkadang muncul dan bersabar atas segala beban berat dan keletihan.
Kisah Ketiga: Seorang Ibu yang Kesembilan Anaknya Hafal AlQur’an
Sejak awal kehidupan rumah tangganya ia bertekad untuk mendidik anak anaknya agar mencintai AlQur’an dan pelajaran ilmu ilmu syar’i. Dan sebelumnya (camkan ini para akhwat..!!) ia telah bertekad dihadapan Allah untuk menjadikan keshalihan dan ketaqwaan sebagai dasar dalam memilih seorang suami agar mendapatkan ridho Allah di dunia dan di akhirat.
“Suamiku adalah seorang hafidz dan salah satu pengajar ilmu syar’i. Ia senantiasa mendorong anak anak kami untuk menghafal AlQur’an dan mempelajari berbagai ilmu syar’i..”
“Aku berupaya mengajarkan Al-Qur’an kepada anak kami yang masih kecil sebelum ia belajar berbicara. kami senantiasa mengulang ulang kalimat tauhid dan syahadat serta ketaatan kepada Allah ditelinganya, hingga ia mampu mengucapkannya meski dengan pengucapan yang sangat lamban. Si kecil selalu mengatakan “Allah ada di langit.. Laa ilaaha illallah”. Hal ini terus berkelanjutan. Hingga saat ia mulai bisa mengucapkan kata kata, maka yang paling baik untuk diucapkan adalah AlQur’an. hampir 3 tahun hal itu berjalan hingga ia mulai menghafal juz ‘Amma. Kami berupaya mengajarkan keutamaan keutamaan pada anak anak kecil kami. Kami menumbuhkan dalam hati dan pikiran merekauntuk mengagungkan Allah sehingga mereka mampu menghafal fengan penuh semangat dan azam yang kuat dalam menghafal AlQur’an.
Suamiku sangat perhatian untuk menanamkan bibit bibit kebaikan pada anak anak kami yang masih kecil. Ia memasukkan mereka ke sekolah sekolah tahfidz diwaktu siang hari dan mengadakan forum tahfidz AlQur’an di rumah di sore hari sebab kami berupaya agar anak kami mampu mengkhatamkan AlQur’an sebelum ia mengkhatamkannya di sekolaj. Sebagaimana usaha kami agar anak telah hafal AlQur’an sebelum ia masuk ke sekolah.
Ummu ‘Abdirrohman melanjutkan,
Hasil yang paling menonjol dan buah terbaik atas perjalanan yang menakjubkan pada diri kesembilan anak itu adalah mereka “..termasuk saya sendiri telah hafal AlQur’an” jawabnya dengan penuh kegembiraan. Dari pengalaman ini saya bisa menyimpulkan bahwa :
- berkecimpung dalam sekolah tahfidz dan halaqoh AlQur’an tidak menghalangi mereka untuk belajar atau menurunkan prestasi akademiknya. bahkan hal itu adalah sarana sekaligus motivasi yang paling baik untuk meraih prestasi.
- Banyak berbaur, shopping, dan acara acara lainnya merupakan penyebab terbesar dalam menyia nyiakan waktu dan membuyarkan perhatian dan pikiran.
- Saat ini kita hidup di zaman yang penuh dengan problem dan bencana yang senantiasa mengitari kita. Dan tidak ada yang dapat meneguhkan para pemuda selain AlQur’an, menghafal dan mempelajarinya.
- kebaikan akan senantiasa ada di tengah tengah manusia, namun amat sedikit. Diantara mereka ada yang memanfaatkan kebaikan itu untuk dirinya sendiri. Maka, apabila kedua orang tua berupaya mencurahkan segala usahanya, mereka akan menuai hasil..
=============================================================
Kisah kisah diatas adalah beberapa diantara 66 kisah nyata dari buku “Seni Menghafal Al-Qur’an” (((judul aslinya : النسآء لا يعرفن اليأس | Wanita wanita yang tidak kenal putus asa))) – Ahmad Salim Badwilan. Wacana Ilmiah Press; Buku milik Ustadzah Mahmudah – pengajar Mahad Hasan bin Ali Samarinda -Jazaahallahu khairaa-

0 komentar:

Poskan Komentar

.